Lo anak rantau yang baru lulus SMA atau mungkin lagi di semester akhir? Gue mau cerita sedikit. Dulu, tepat setelah wisuda SMA, gue dihadapkan sama dua pilihan yang bikin kepala pusing: langsung kerja atau lanjut kuliah. Kelihatannya simpel, tapi buat anak rantau kayak kita, pilihannya nggak sesederhana itu. Ada biaya kos, ada tuntutan keluarga di kampung, ada juga rasa pengin cepat mandiri secara finansial.
Gue sempat salah ambil keputusan di awal. Ikut-ikutan teman masuk jurusan yang sebenarnya nggak gue paham, cuma karena katanya "prospeknya bagus". Setahun kemudian gue sadar, kuliah bukan cuma soal prospek, tapi soal apakah kamu sanggup jalanin prosesnya sambil jauh dari rumah. Jadi, daripada kamu ngalamin hal yang sama, gue rangkum lima hal yang wajib kamu cek dulu sebelum mutusin kerja atau lanjut kuliah.
Baca juga: Sering Ditolak Kerja, Ternyata Ini 5 Mitos Karier Anak Rantau
1. Cek Dulu Isi Dompet dan Sumber Dana Kamu
Ini yang paling sering dilewatin anak rantau, padahal paling krusial. Sebelum kamu mendaftar kuliah, hitung dulu biaya totalnya: UKT atau SPP, uang kos, makan, transport, kuota, sampai biaya tak terduga kayak sakit atau pulang kampung mendadak. Kalau angka itu masih masuk akal dengan tabungan dan kiriman orang tua, lanjut. Kalau nggak, jangan dipaksain cuma demi gengsi.
Kerja juga bukan berarti bebas masalah finansial. Gaji pertama kamu bakal habis buat kos, makan, dan transport. Kadang sisa buat nabung cuma recehan. Jadi, jangan bayangin kerja langsung kaya. Yang penting, kamu tahu dari mana uangnya datang dan ke mana perginya.
Anak rantau yang jujur soal kondisi dompetnya jauh lebih aman daripada yang nekat ngikutin ekspektasi orang lain.
2. Cek Mental dan Kesiapan Hidup Jauh dari Rumah
Kuliah di kota lain itu bukan cuma soal belajar. Kamu harus masak sendiri, nyuci sendiri, ngurus kos, dan kadang nggak ada yang bisa langsung kamu curhatin. Kalau kamu tipe yang gampang homesick dan belum siap mandiri, kuliah bisa jadi ajang stres berkepanjangan. Bukan berarti nggak boleh, tapi kamu perlu sadar risikonya.
Kerja juga sama. Bedanya, kerja nuntut kamu lebih cepat dewasa. Ada atasan, ada deadline, ada rekan kerja yang nggak selalu nyaman. Kalau mental kamu belum siap, kerja bisa jadi pengalaman yang bikin kapok. Jadi, tanya diri sendiri: kamu lebih siap menghadapi tekanan akademik atau tekanan dunia kerja? Jawaban jujur kamu itu yang jadi pegangan.
Bagaimana Kalau Kamu Belum Yakin Sama Sekali?
Nggak apa-apa. Kamu bisa ambil jalan tengah, misalnya kerja dulu setahun buat nabung dan cari pengalaman, baru kuliah. Atau kuliah sambil kerja part-time kalau memang memungkinkan. Yang penting, jangan diam di tempat tanpa rencana.
3. Cek Peluang Karier yang Kamu Incar
Kalau kamu mau kerja langsung, cek dulu bidang apa yang mau kamu tekuni. Apakah bidang itu memang butuh ijazah sarjana, atau cukup skill dan pengalaman? Banyak pekerjaan di bidang kreatif, teknologi, dan jasa yang lebih menghargai portofolio daripada gelar. Tapi kalau kamu bercita-cita jadi dokter, dosen, atau akuntan, ya kuliah itu wajib.
Sebaliknya, jangan kuliah cuma karena "biar aman". Kalau jurusan yang kamu ambil nggak nyambung sama karier impian, kamu cuma buang waktu dan uang. Coba riset lowongan kerja di platform pencarian kerja, lihat kualifikasinya, lalu cocokkan dengan pilihan kamu.
4. Cek Pengalaman Wawancara dan Dunia Kerja Sejak Dini
Ini yang sering gue tekankan ke adik-adik rantau. Wawancara kerja itu skill, dan skill itu bisa dilatih. Kalau kamu memilih kerja langsung, latihan wawancara jadi prioritas. Pelajari pertanyaan umum, siapkan cerita tentang diri kamu, dan jangan grogi.
Kalau kamu memilih kuliah, jangan tunggu lulus baru belajar wawancara. Ikut organisasi, magang, atau kerja part-time. Pengalaman itu bakal bikin kamu jauh lebih percaya diri saat wawancara nanti. Gue dulu nyesel baru belajar wawancara di semester akhir, padahal bisa mulai dari awal.
Latihan Wawancara Itu Bisa dari Hal Kecil
Mulai dari ngobrol sama teman kos, tanya jawab soal kelebihan dan kekurangan, atau rekam diri sendiri saat jawab pertanyaan. Sepele, tapi ngaruh banget.
5. Cek Dukungan Keluarga dan Jaringan di Kota Rantau
Terakhir, ini yang sering luput. Anak rantau butuh jaringan. Kalau kamu punya saudara atau kenalan di kota tujuan, itu jadi nilai plus besar. Mereka bisa bantu cari kos, info kerja, atau sekadar jadi tempat curhat. Kalau nggak ada, coba bangun relasi dari komunitas kampus atau tempat kerja.
Dukungan keluarga juga penting, bukan cuma soal uang, tapi soal restu dan pemahaman. Diskusikan pilihan kamu baik-baik. Kadang orang tua punya pandangan yang nggak kamu pikirkan, tapi jangan juga ikut mentah-mentah. Cari titik tengahnya.
Intinya, baik kerja langsung maupun lanjut kuliah, dua-duanya bukan pilihan yang salah. Yang salah itu kalau kamu milih tanpa tahu alasannya. Jadi, cek lima hal di atas dulu, tarik napas, baru putuskan. Kamu anak rantau, kamu tahu apa yang kamu perjuangin.