Selasa, 3 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
58wining.com58wining.com
58wining.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Baru Sebulan Saya Coba, Ternyata Pensiunan Lebih C...

Baru Sebulan Saya Coba, Ternyata Pensiunan Lebih Cocok Jadi Mentor

Saya sempat bingung antara jadi mentor atau pekerja lepas setelah pensiun. Setelah sebulan mencoba keduanya, ini yang saya temukan.

Baru Sebulan Saya Coba, Ternyata Pensiunan Lebih Cocok Jadi Mentor

Dua bulan setelah saya resmi menerima SK pensiun dari kantor tempat saya bekerja hampir tiga puluh tahun, ada satu pertanyaan yang terus menghantui saya: habis ini ngapain? Anak-anak sudah besar, cicilan rumah sudah lunas, dan tiba-tiba saja saya punya waktu yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada tenaga.

Seorang teman lama menyarankan saya jadi mentor. Teman lain, yang agak lebih muda dan hobi ngoprek laptop, malah mengajak saya ambil proyek lepas sebagai konsultan. Katanya, pengalaman saya di bidang administrasi dan keuangan masih laku di pasar. Saya pun bingung. Dua-duanya terdengar masuk akal, dua-duanya juga terdengar melelahkan.

Baca juga: Sering Ditolak Kerja, Ternyata Ini 5 Mitos Karier Anak Rantau

Jadi saya putuskan untuk mencoba keduanya sekaligus selama sebulan. Bukan sebagai uji coba yang serius-serius amat, lebih tepatnya sih supaya saya punya alasan untuk bangun pagi. Dan ternyata, hasilnya cukup mengejutkan saya sendiri.

Kenapa Saya Sempat Ragu Antara Dua Pilihan Ini

Jujur saja, jadi mentor itu terdengar seperti pekerjaan orang baik hati. Saya membayangkan diri saya duduk di kafe, ditemani anak muda yang antusias, lalu saya bagi-bagi ilmu sambil menyesap kopi. Terdengar ringan, hampir seperti pengajian.

Sementara jadi konsultan lepas atau freelancer terdengar lebih “berisi”. Ada kontrak, ada tenggat, ada honor yang jelas. Buat orang seperti saya yang tiga puluh tahun hidup dari gaji tetap, kata “honor” dan “kontrak” itu terasa akrab dan menenangkan.

Tapi begitu dijalani, dua-duanya ternyata jauh dari bayangan saya. Dan di sinilah saya mulai paham bahwa pilihan yang tepat buat pensiunan bukan selalu yang paling menghasilkan uang, tapi yang paling tidak menguras diri.

Jadi Mentor: Menguras Sabar, Tapi Mengisi Hati

Proyek mentoring pertama saya datang dari keponakan sendiri. Dia baru lulus dan sedang bingung mau kerja di mana. Saya pikir ini akan mudah. Ternyata tidak. Anak ini punya kebiasaan menjawab pertanyaan dengan “terserah Om saja” selama dua jam pertama.

Butuh tiga pertemuan sebelum dia akhirnya berani bilang bahwa sebenarnya dia takut salah pilih jurusan karier. Nah, dari situ baru obrolannya cair. Saya jadi ingat masa-masa saya sendiri dulu, waktu saya juga takut salah langkah tapi gengsi mengakuinya.

Yang saya pelajari: jadi mentor itu bukan soal menyampaikan ilmu. Ilmu saya soal administrasi dan pembukuan mungkin cuma dipakai sepuluh persen. Sisanya, sembilan puluh persen, adalah mendengarkan dan sesekali bilang “wajar kok merasa begitu”.

“Mentoring itu bukan mengajari orang jadi pintar, tapi menemani orang jadi berani.”

Yang menarik, setelah beberapa sesi, saya merasa lebih berguna dibanding waktu masih aktif bekerja. Aneh memang, tapi begitulah rasanya. Di kantor dulu saya sibuk mengurus dokumen, sekarang saya sibuk mengurus keraguan orang. Dua-duanya melelahkan, tapi yang kedua lebih membuat saya tidur nyenyak.

Jadi Pekerja Lepas: Honornya Nyata, Capeknya Juga Nyata

Nah, kalau yang ini ceritanya lain. Proyek lepas pertama saya adalah merapikan laporan keuangan sebuah usaha kecil milik tetangga. Saya kira selesai dalam tiga hari. Kenyataannya seminggu lebih, karena pemiliknya sering menghilang kalau ditanya soal bukti pengeluaran.

Di sinilah saya sadar satu hal yang tidak pernah saya alami selama jadi pegawai: jadi pekerja lepas itu berarti kamu harus mengejar orang. Dulu, kalau atasan minta laporan, saya yang mengejar. Sekarang, saya yang dikejar tenggat, dan saya juga yang harus mengejar klien. Rasanya seperti jadi dua orang sekaligus.

Belum lagi soal wawancara. Ya, wawancara. Saya kira wawancara kerja itu cuma milik anak muda. Ternyata waktu saya ditawari proyek yang agak besar, saya tetap harus “diwawancara” dulu oleh calon klien. Ditanya pengalaman, ditanya kesanggupan, ditanya tarif. Rasanya aneh, seperti balik ke umur dua puluh lima.

  • Kelebihan jadi pekerja lepas: honor jelas, jam kerja lebih fleksibel, dan saya bisa menolak proyek yang tidak cocok.
  • Kekurangannya: harus aktif mencari klien, mengejar pembayaran, dan sesekali berurusan dengan orang yang sulit dihubungi.
  • Kelebihan jadi mentor: tidak ada tenggat ketat, hubungannya lebih hangat, dan ilmunya terasa lebih berarti.
  • Kekurangannya: sering tidak dibayar, butuh kesabaran ekstra, dan hasilnya tidak bisa diukur dengan angka.

Satu Hal yang Sama-Sama Saya Rasakan

Dari dua pengalaman ini, ada satu benang merah yang cukup mengganggu saya. Baik jadi mentor maupun pekerja lepas, saya tetap harus menjelaskan diri saya ke orang lain. “Kenapa masih kerja padahal sudah pensiun?” “Memangnya tidak capek?” “Memangnya tidak cukup uangnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu datang dari orang-orang terdekat, bukan dari klien. Dan jujur, itu yang paling melelahkan. Bukan pekerjaannya, tapi komentar orang tentang pekerjaan itu.

Padahal buat saya sederhana saja. Saya tidak bekerja karena butuh uang, tapi karena kalau tidak bekerja, saya merasa seperti barang yang disimpan di lemari. Masih ada, masih berfungsi, tapi tidak dipakai.

Jadi, Mana yang Saya Pilih?

Setelah sebulan, saya memutuskan untuk melanjutkan keduanya, tapi dengan porsi yang berbeda. Mentoring saya jadikan kegiatan utama, karena di situlah saya merasa paling hidup. Pekerjaan lepas saya ambil sesekali saja, kalau proyeknya benar-benar menarik dan kliennya tidak bikin saya mengelus dada.

Kalau kamu juga sedang di posisi ini, mungkin pertanyaannya bukan “mana yang lebih menguntungkan”, tapi “mana yang bikin kamu merasa masih berguna tanpa harus kehilangan ketenangan”. Buat saya, jawabannya ada di mentoring. Buat kamu, bisa jadi berbeda. Dan itu tidak apa-apa.

Yang jelas, pensiun bukan berarti berhenti. Ia cuma berarti kita akhirnya boleh memilih sendiri mau sibuk dengan apa. Dan setelah tiga puluh tahun mengikuti perintah orang, rasanya melegakan bisa memilih sendiri, walau kadang pilihan itu bikin bingung juga.

Tags: pensiun mentor freelancer karier wawancara