Selasa, 3 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
58wining.com58wining.com
58wining.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Bandara Kala Subuh, Gue Belajar Soal Karier dan...

Di Bandara Kala Subuh, Gue Belajar Soal Karier dan Wawancara

Pengalaman pribadi soal karier dan wawancara, ditulis dari sudut pandang orang yang sering traveling. Bukan teori, tapi pelajaran nyata.

Di Bandara Kala Subuh, Gue Belajar Soal Karier dan Wawancara

Jam tiga pagi. Gue duduk di kursi tunggu Terminal 3, ngantuk berat, sambil sesekali ngeliatin papan informasi yang belum nunjukin nomor gate. Di sebelah gue, seorang bapak paruh baya sibuk buka laptop, ngecek sesuatu yang kayaknya penting banget. Di depannya, secangkir kopi sachet yang udah dingin. Gue nggak sengaja nguping dia ngomong sendiri: "Ya udah, kalau nggak cocok, ya nggak cocok."

Kalimat itu nempel di kepala gue sampai sekarang. Bukan karena dramatis, tapi karena jujur. Dan anehnya, momen di bandara kayak gini yang justru bikin gue ngerti banyak hal soal dunia kerja, karier, dan wawancara — lebih dari yang pernah gue dapet dari seminar atau buku motivasi.

Bandara Itu Ruang Tunggu yang Jujur

Kalau kamu sering bepergian, kamu pasti tahu rasanya. Duduk berjam-jam, nunggu sesuatu yang belum tentu tepat waktu, dan dipaksa sendirian sama pikiran sendiri. Nggak ada yang bisa kamu kerjain selain nunggu. Nggak ada bos yang bisa kamu SMS. Nggak ada grup kantor yang bisa kamu pantau.

Baca juga: Gimana Caranya Tetap Terlihat Profesional Saat Budget Makin Ketat?

Justru di situ gue sadar: karier itu bukan sprint, tapi lebih kayak nunggu boarding. Kamu udah dateng paling pagi, udah siapin semua dokumen, tetep aja ada delay yang di luar kendali kamu. Dan yang bikin beda antara orang yang stres sama yang santai bukan keberuntungan — tapi cara mereka ngadepin waktu tunggu itu.

Gue pernah ngelamar kerja lima kali dalam setahun, dan tiga di antaranya gagal di tahap wawancara. Waktu itu gue ngerasa kayak pesawat yang di-cancel terus. Tapi setelah beberapa tahun dan beberapa kota, gue mulai ngeliat polanya. Ada beberapa hal yang cuma bisa kamu pelajari kalau kamu udah cukup sering "nunggu di bandara" — secara harfiah maupun kiasan.

Wawancara Kerja Itu Seperti Ngobrol Sama Petugas Imigrasi

Ini pelajaran yang gue dapet waktu transit lama di sebuah bandara luar negeri. Petugas imigrasinya nanya banyak hal: mau ke mana, nginep di mana, bawa duit berapa. Pertanyaan-pertanyaannya simpel, tapi cara dia nanya bikin gue deg-degan.

Terus gue sadar, wawancara kerja itu mirip banget. HRD bukan musuh kamu. Dia cuma pengen tahu: kamu siapa, kamu mau ke mana, dan kamu beneran niat atau nggak. Bedanya, kalau di imigrasi kamu bisa di-deport, kalau di wawancara kamu cuma di-ghosting. Sakit sih, tapi nggak separah itu.

Yang bikin wawancara terasa berat bukan pertanyaannya, tapi ekspektasi kita sendiri bahwa kita harus sempurna.

Gue inget waktu wawancara untuk posisi yang gue pengen banget. Gue latihan jawaban di depan cermin hotel selama dua jam. Hasilnya? Gue kaku, kayak robot yang lagi baca script. Interviewer-nya sampe nanya, "Kamu lagi capek ya?" Hancur. Tapi dari situ gue belajar: orang ngerekrut manusia, bukan jawaban hafalan.

Hal-hal yang Gue Pelajari dari Kesalahan Itu

  • Jujur soal jeda karier. Kalau kamu pernah resign buat traveling atau urus keluarga, bilang aja. Itu bukan kelemahan, itu cerita.
  • Jangan pura-pura tahu semua. Bilang "gue belum pernah ngerjain itu, tapi gue pernah ngerjain X yang mirip" lebih dihargai daripada ngarang.
  • Tanya balik. Wawancara itu dua arah. Kalau kamu nanya soal budaya kerja atau ekspektasi tim, itu nunjukin kamu serius.
  • Siapin cerita, bukan skrip. Cerita punya ruang buat improvisasi. Skrip bikin kamu panik kalau ditanya di luar rencana.

Poin terakhir itu yang paling nempel. Waktu gue berhenti ngafalin dan mulai cerita soal pengalaman gue ngurus proyek sambil ngejar penerbangan pagi, interviewer-nya malah ketawa dan lanjut nanya lebih dalam. Ternyata orang suka cerita yang berantakan tapi nyata, bukan yang rapi tapi kosong.

Karier Itu Bukan Soal Sampai Tujuan, Tapi Soal Rute

Kalau kamu sering bepergian, kamu pasti pernah ngalamin ini: rute yang kamu rencanain ternyata bukan yang terbaik. Kadang kamu harus transit di kota yang nggak kamu kenal, nunggu lebih lama, atau malah ganti tujuan di tengah jalan.

Karier gue juga gitu. Gue mulai dari pekerjaan yang jauh dari kata "impian". Gaji pas-pasan, jam kerja nggak jelas, dan bos yang suka ganti pikiran. Tapi dari situ gue belajar hal-hal yang nggak akan gue dapet kalau gue langsung duduk di posisi nyaman.

Ada temen gue yang kerja di perusahaan gede, tapi tiap bulan ngeluh. Ada juga yang kerja di startup kecil, tapi matanya berbinar tiap cerita soal proyeknya. Bedanya bukan di gaji atau nama perusahaan. Bedanya di apakah mereka ngerasa rutenya masuk akal buat mereka.

Gue sendiri pernah nolak tawaran kerja dengan gaji dua kali lipat karena harus pindah ke kota yang nggak cocok buat gue. Keluarga gue nggak ngerti. Temen gue bilang gue bodoh. Tapi dua tahun kemudian, gue dapet pekerjaan yang lebih cocok, dengan tim yang lebih sehat, dan gue nggak nyesel. Bukan karena gue hebat, tapi karena gue udah cukup sering "transit" buat tahu mana rute yang bikin gue betah.

Yang Paling Gue Syukurin dari Sering Bepergian

Bukan miles-nya. Bukan foto-foto di lounge. Tapi kemampuan buat nggak panik saat semuanya berubah. Pesawat delay, gate pindah, koper ilang — semua itu ngajarin gue bahwa rencana itu penting, tapi fleksibilitas yang nyelametin.

Di dunia kerja, hal yang sama berlaku. Proyek bisa batal. Atasan bisa resign. Tim bisa di-reshuffle. Yang bisa kamu kontrol cuma cara kamu ngerespon. Dan kalau kamu udah pernah nunggu enam jam di bandara tanpa ngeluh (atau ngeluh dikit, gapapa), kamu bakal lebih tahan banting di kantor.

Jadi kalau kamu lagi nunggu hasil wawancara, atau lagi bingung soal arah karier, coba inget momen terakhir kamu di bandara. Duduk, tarik napas, dan ingetin diri sendiri: kamu nggak harus tahu semua jawabannya sekarang. Kamu cuma perlu siap waktu pintu boarding-nya dibuka.

Dan kalau ternyata pesawatnya nggak dateng? Ya udah. Ada penerbangan lain. Ada rute lain. Ada cerita lain yang nunggu kamu tulis.

Tags: dunia kerja karier wawancara kerja traveling pengalaman pribadi